img UNMER UNMER

Pascasarjana Unmer Malang Dorong Penguatan Koperasi dan BUMDes melalui Kompetensi, Digitalisasi, dan Kolaborasi - keynote speech : Prof. Dr. Grahita Chandrarin, M.Si., Ak., CA.,

Pascasarjana Unmer Malang Dorong Penguatan Koperasi dan BUMDes melalui Kompetensi, Digitalisasi, dan Kolaborasi -  keynote speech : Prof. Dr. Grahita Chandrarin, M.Si., Ak., CA.,

MALANG – Program Pascasarjana Universitas Merdeka (Unmer) Malang menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi, tata kelola, inovasi digital, serta pendampingan berkelanjutan untuk memperkuat peran koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam pembangunan ekonomi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Pascasarjana Unmer Malang, Prof. Dr. Grahita Chandrarin, M.Si., Ak., CA., dalam Talkshow Nasional bertema “Menuju Sustainability Koperasi dan BUMDes melalui Gerakan UMKM; Pentingnya Up Date Kompetensi untuk Memahami Realitas Bisnis Terkini.”

Dalam keynote speech-nya, Prof. Grahita menyoroti posisi strategis UMKM, koperasi, dan BUMDes dalam memperkuat ekonomi masyarakat. Menurutnya, pembangunan ekonomi Indonesia tidak dapat hanya bertumpu pada perusahaan besar dan investasi di kawasan perkotaan, tetapi juga harus memperhatikan kekuatan ekonomi kerakyatan.

Ia mengutip data UMKM 2025 yang menyebutkan kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berada di kisaran 60,5% hingga 61,9%, sementara sektor UMKM menyerap hingga 97% tenaga kerja nasional dengan jumlah pelaku usaha lebih dari 65 juta unit.

Koperasi dan BUMDes Punya Peran Strategis

Prof. Grahita menjelaskan bahwa koperasi memiliki kekuatan melalui prinsip keanggotaan dan kebersamaan. Sementara itu, BUMDes memiliki posisi strategis karena bertumpu pada potensi ekonomi desa sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, koperasi dan BUMDes tidak semestinya dipandang hanya sebagai lembaga ekonomi biasa. Keduanya perlu dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat yang profesional, adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.

Pandangan tersebut sejalan dengan visi Pascasarjana Unmer Malang untuk menjadi institusi pendidikan yang unggul dan memberikan dampak bagi kemajuan bangsa serta kesejahteraan masyarakat. Perguruan tinggi, menurut Prof. Grahita, memiliki tanggung jawab untuk menjadi pusat pengetahuan, inovasi, pengembangan kompetensi sekaligus mitra strategis masyarakat.

Empat Peran Perguruan Tinggi untuk Koperasi dan BUMDes

Dalam paparannya, Prof. Grahita menguraikan setidaknya empat peran penting perguruan tinggi dalam mendukung penguatan koperasi dan BUMDes.

1. Meningkatkan Kompetensi dan Profesionalisme

Pengelolaan koperasi dan BUMDes saat ini semakin kompleks. Pengelola tidak cukup hanya menguasai administrasi, tetapi juga perlu memahami manajemen strategis, akuntansi dan keuangan, perpajakan, manajemen risiko, pengendalian internal, pemasaran, kewirausahaan, tata kelola, hingga teknologi digital.

Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. Materinya dapat mencakup penyusunan laporan keuangan, analisis kesehatan keuangan, perencanaan bisnis, studi kelayakan, digital marketing, pengembangan produk, manajemen risiko, dan tata kelola organisasi.

2. Membangun Tata Kelola yang Baik

Profesionalisme koperasi dan BUMDes bukan hanya diukur dari kemampuan menghasilkan keuntungan. Lebih dari itu, organisasi harus mampu menjalankan aktivitas secara transparan, akuntabel, efektif, efisien, dan bertanggung jawab.

Tata kelola yang baik membutuhkan perencanaan yang jelas, pembagian kewenangan, pencatatan dan pelaporan keuangan yang baik, pengendalian internal, serta manajemen risiko. Sistem tersebut pada akhirnya akan membantu membangun kepercayaan yang menjadi salah satu modal penting bagi keberlanjutan organisasi.

3. Mendorong Transformasi Digital

Perubahan teknologi turut mengubah cara masyarakat bekerja, berkomunikasi, melakukan transaksi, hingga memasarkan produk. Konsumen kini semakin mudah menemukan produk melalui perangkat digital, sementara promosi dan transaksi dapat dilakukan melalui berbagai platform.

Koperasi dan BUMDes karena itu perlu mengikuti perkembangan tersebut. Perguruan tinggi dapat membantu proses transformasi melalui digitalisasi administrasi, sistem informasi keuangan, pemasaran digital, pembayaran digital, pengelolaan data anggota, hingga pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam mendukung pengambilan keputusan bisnis.

Namun, Prof. Grahita mengingatkan bahwa digitalisasi bukan sekadar memindahkan proses manual ke komputer. Transformasi digital harus mampu menciptakan proses yang lebih cepat, akurat, transparan, dan mendukung pengambilan keputusan.

4. Menjadi Mitra Riset dan Pendampingan Berkelanjutan

Setiap desa dan koperasi memiliki karakteristik, potensi, serta persoalan yang berbeda. Karena itu, pengembangan koperasi dan BUMDes tidak dapat menggunakan pendekatan yang seragam.

Perguruan tinggi dapat melakukan penelitian untuk memetakan potensi ekonomi, mengidentifikasi permasalahan, menganalisis kelayakan usaha, mengembangkan model bisnis, dan mengevaluasi kinerja koperasi maupun BUMDes.

Yang tidak kalah penting, hasil penelitian tersebut perlu diterjemahkan menjadi solusi yang dapat diterapkan langsung di masyarakat. Dengan demikian, hubungan perguruan tinggi dengan koperasi dan BUMDes tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang menghasilkan perubahan nyata.

Tidak Cukup Hanya Pelatihan, Perlu Pendampingan

Salah satu poin penting yang ditekankan dalam keynote speech tersebut adalah perlunya perubahan paradigma dalam pengembangan kapasitas koperasi dan BUMDes.

Peningkatan kapasitas tidak cukup dilakukan melalui pelatihan selama satu atau dua hari. Setelah pelatihan selesai, hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat seharusnya tetap berlanjut melalui proses pendampingan.

Prof. Grahita menawarkan gagasan “Academic–Cooperative–Village Partnership”, yaitu model kemitraan yang mempertemukan perguruan tinggi, koperasi, desa, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.

Dalam ekosistem tersebut, perguruan tinggi menyediakan pengetahuan dan inovasi, koperasi menjadi ruang implementasi sekaligus sumber pengalaman bisnis, BUMDes menghadirkan potensi ekonomi desa, masyarakat menjadi penerima manfaat sekaligus bagian dari proses pemberdayaan, sedangkan pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator. Dunia usaha dapat mendukung akses pasar, teknologi, pembiayaan, dan jaringan.

Membangun Koperasi dan BUMDes Berarti Membangun SDM

Prof. Grahita juga menegaskan bahwa pembangunan koperasi dan BUMDes pada dasarnya merupakan bagian dari pembangunan manusia.

Modal, gedung, teknologi, dan regulasi tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak didukung sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, integritas, kreativitas, dan komitmen.

Karena itu, investasi pada pengetahuan dan kualitas SDM menjadi bagian penting dalam membangun koperasi dan BUMDes yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Ke depan, koperasi diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan simpan pinjam, tetapi mampu mengembangkan berbagai usaha produktif sesuai kebutuhan anggota. Begitu pula BUMDes diharapkan dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal, termasuk sebagai aggregator produk masyarakat desa, membuka akses pasar, menciptakan lapangan kerja, dan mengembangkan potensi ekonomi setempat.

Kolaborasi Menjadi Kunci Keberlanjutan

Untuk mewujudkan koperasi dan BUMDes yang profesional serta berkelanjutan, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, BUMDes, dunia usaha, dan masyarakat.

Masing-masing pihak memiliki peran yang saling melengkapi. Perguruan tinggi membawa ilmu pengetahuan dan inovasi, pemerintah menciptakan ekosistem kebijakan, dunia usaha membuka peluang pasar dan jejaring, sementara koperasi, BUMDes, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam implementasi di lapangan.

Pada bagian penutup, Prof. Grahita mengajak perguruan tinggi untuk tidak hanya dipandang sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun ekonomi masyarakat.

Ilmu pengetahuan dan inovasi dari kampus perlu dihadirkan di tengah masyarakat. Riset perlu dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan, sementara peningkatan kompetensi pengelola koperasi dan BUMDes harus dilakukan secara konsisten.

Menurutnya, ketika pengelola memiliki kapasitas yang kuat, organisasi akan semakin kuat. Ketika koperasi dan BUMDes berkembang, ekonomi masyarakat juga akan semakin kokoh dan pada akhirnya dapat mendorong kemandirian desa serta memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.

Talkshow Nasional tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi, berbagi pengalaman, serta melahirkan langkah nyata dalam membangun koperasi dan BUMDes yang profesional, inovatif, adaptif, berintegritas, dan berkelanjutan.

 

Redaksi:AW7

  • Koperasi dan BUMDes
  • BUMDes berkelanjutan
  • digitalisasi koperasi
  • digitalisasi BUMDes
  • UMKM Indonesia
  • kompetensi pengelola koperasi
  • transformasi digital UMKM
  • ekonomi desa
  • perguruan tinggi dan BUMDes
  • Program Pascasarjana Unmer Malang

Direktur Pascasarjana Universitas Merdeka Malang, Prof. Dr. Grahita Chandrarin, M.Si., Ak., CA., saat menyampaikan keynote speech dalam Talkshow Nasional mengenai keberlanjutan koperasi, BUMDes, dan penguatan kompetensi di era digital.

 

Comments (0)

No comments yet. Be the first to comment!

Leave your thought